Single kedua dari album "Promenades, ..." yang catchy, positif, dan Mumford-ish
Judul :With Grace Album:Promenades, A Short Films by Elephant Kind Artist :Elephant Kind Tahun :2015
Nuansa Mumford and Sons pada single kedua unit indie ibu kota Elephant Kind di mini album mereka "Promenades, A Short Film by Elephant Kind" ini tidak bisa terelakkan. Mulai dari elemen gitar akustik, hentakan kick drum yang bersatu dengan tambourine, ambience, dan juga vokal Bam Mastro yang sekilas terdengar seperti karakter vokal dari Marcus Mumford. Meski begitu, karakter dari Elephant Kind sendiri tidak lantas hilang begitu saja. Isian synth masih bisa didengar di lagu ini. Bassline yang sederhana tapi efektif dari Coki juga menjadi komplemen yang berhasil menyatu dengan setiap isiandrum yang menghentak di hampir keseluruhan lagu. Lalu riff gitar dari Mastro yang pop-ish dengan isian delay yang sekilas mirip dengan Edge 'U2' tetapi tetap dengan sound yang catchy berbaur dengan aroma yang positif khas Elephant Kind. Secara keseluruhan, lagu yang liriknya memiliki nafas gospel ini seharusnya dapat membawa nama Elephant Kind lebih dikenal pencinta musik di Indonesia, terlepas dari hengkangnya Coki yang lebih memilih berkomitmen dengan Kelompok Penerbang Roket
6.5/10
Bagaimana menurut anda tentang lagu ini? Berbagilah di kolom komentar
Pertama kali saya tahu Silampukau adalah saat saya
menghadiri sebuah acara pensi di kampus saya pada tahun 2015 lalu. Saya telak terkesima
dan jempol kaki saya terhipnotis bergerak dengan sendirinya mengikuti beat yang mayoritas berirama folk itu. Saat itu saya tidak tahu band apa yang
sedang bermain di panggung, sehingga saya memasukkan lirik yang mereka
nyanyikan ke dalam mesin pencari di smartphone saya.
“Duh Gusti, aku kesasar di jalur indie.
Terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci.
Musisi, Gusti, musisi,
bukan jadi penjaga distro kayak gini.”
Seperti itulah lirik yang mereka nyanyikan saat itu. Muncullah
nama Silampukau. Nama yang asing bagi saya karena memang saya belum pernah
mendengar mereka baik di radio ataupun tv.
Saya semakin penasaran tentang grup ini dan saya mendapati
bahwa duo ini telah memiliki album penuh pertama mereka, “Dosa, Kota, dan
Kenangan” yang rilis 2015 lalu. Judul album tersebut menggambarkan keseluruhan
isi album yang memang berbicara tentang kota asal mereka, Surabaya dengan
berbagai dosa-dosa dan kenangan-kenangan khas kota besar dengan berbagai sudut
pandang pelakunya.
Saat mendengarkan album ini untuk yang pertama kali, irama
berbenang merah folk yang dinamis dan dibalut dengan elemen-elemen jazz, country,
dan bau-bau Perancis menyeruak. Album yang dikerjakan secara “home recording”
ini berhasil memunculkan nuansa vintage yang kental dan hangat. Kita seperti
diajak berjalan-jalan di Surabaya pada tahun 1950an. Teduh rasanya mendengarkan
album ini.
Album ini membuat saya merasa seperti kebanyakan apa yang
saya rasakan dan lihat selama tinggal 3 tahun di Surabaya disenandungkan. Getir
memang, tapi nyata. Mereka berhasil menginterpretasikan Surabaya yang mereka rasakan
dan lihat ke dalam lirik-lirik mereka yang puitis dan tidak jarang nakal. Mulai
dari kisah perjuangan orang-orang urban, rantau, hingga pinggiran untuk
bertahan hidup di Surabaya pada lagu “Lagu Rantau (Sambat Omah)” dan “Malam
Jatuh di Surabaya”. Aada juga kisah pedagang minuman keras yang terpaksa harus
berjuang di tengah naiknya harga miras dan dinamikanya pada lagu “Sang Juragan”,
suasana Taman Remaja Surabaya dengan segala realitanya. Lalu ada lagu “Sang
Pelanggan” yang menuturkan kehidupan Dolly di Surabaya. Dan jangan lupakan lagu
“Doa 1” yang menurut saya merupakan lagu yang menjadi lagu favorit saya di
album ini. Dikemas ala folk-country sedikit Iwan Fals, lagu ini berisi suara
batin (mungkin) kebanyakan musisi-musisi indie. Diawali dengan optimisme bahwa
musik bisa menghidupi mereka, sampai akhirnya mereka dihadapkan pada kenyataan
bahwa mereka justru menjadi penjaga distro. Apakah untuk sukses mereka harus
jadi murahan seperti Ahmad Dhani? Atau membayar harga tinggi tawa di layar
kaca?
Secara keseluruhan, album “Dosa, Kota, dan Kenangan” ini
membentuk satu kesatuan yang solid, musik dan lirik berhasil bersinergi
memunculkan musik Folk dalam artian sebenarnya, nyanyian para rakyat. Baik itu perantau,
lelaki hidung belang, ataupun penjual miras oplosan. Sangat direkomendasikan bagi anda yang sedang mencari penyegaran untuk daftar putar anda. Dengarkan saja lagu ini sambil
mengitari Surabaya di sore hari dan kita akan mendapatkan “feel” album ini.